- Back to Home »
- Astaghfirullah »
- Seribu dan Seratus Ribu
Posted by : Davin Hean Dirgantara
Sabtu, 04 Januari 2014
Uang Rp. 1000 dan Rp. 100.000 sama-sama terbuat dari kertas, sama-sama di cetak dan diedarkan Bank Indonesia.
Mereka keluar pada saat bersamaan, berpisah dari bank, lalu beredar di masyarakat. Empat bulan kemudian mereka bertemu lagi secara tidak sengaja di dalam dompet seorang pemuda, terjadilah percakapan antara uang Rp. 1000 dan Rp. 100.000 tadi. Begini percakapannya:
Rp. 100.000 : Kenapa badanmu begitu lesu, kotor dan bau amis?
Rp. 1.000 : Karena begitu keluar dari bank, aku langsung ke tangan orang-orang bawahan, dari tukang becak, tukang sayur, penjual ikan dan hingga tangan pengemis. Kalau kamu, kenapa kelihatan begitu baru, rapi dan masih bersih?
Rp100.000 : Karena begitu keluar dari bank, aku langsung disambut perempuan cantik dan beredarnya pun di restoran mahal, di mall dan di hotel berbintang. Keberadaanku selalu dijaga dan jarang keluar dari dompet.
Rp. 1000 : Pernahkah engkau mampir ke tempat ibadah?
Rp. 100.000 : *hening* Jarang sih, bahkan banyak di antara kami yang belum pernah.
Rp. 1.000 : Ketahuilah, walaupun keadaanku seperti ini, setiap Jum'at aku selalu mampir di masjid-masjid dan di tangan anak yatim. Karena itu, aku selalu bersyukur kepada Allah SWT. Aku dipandang manusia bukan sebuah nilai, tapi yang mereka pandang adalah sebuah manfaat.
Akhirnya menangislah uang Rp. 100.000 karena merasa dirinya besar, hebat dan tinggi nilainya tetapi tidak begitu bermanfaat selama ini.
Sumber


