- Back to Home »
- Astaghfirullah »
- Paku dan Pagar
Posted by : Davin Hean Dirgantara
Selasa, 31 Desember 2013
Anton adalah seorang anak yang memiliki tabiat kurang baik. Gampang sekali marah, memaki, ataupun mengomel, kepada siapa saja.
Suatu hari ayahnya memberikan sekantung paku seraya berpesan, setiap kali Anton marah, memaki atau mengomel, ia harus menancapkan sebuah paku pada pagar kayu belakang rumah.
Di hari pertama saja, Anton menancapkan 27 paku. Hari demi hari berikutnya ia mampu mengurangi jumlah paku yang mesti ditancapkan.
Lama-lama ia menjadi sadar, bahwa ternyata lebih mudah mengendalikan emosinya daripada harus menancapkan paku di pagar belakang rumah.
Ia melaporkan hal itu pada sang ayah.
Setelah itu ayahnya menyarankan, mulai sekarang Anton diharuskan mencopot kembali satu paku di setiap satu hari yang ia berhasil mengendalikan emosinya.
Pada akhirnya Anton berhasil mencopot semua paku yang tertancap pada pagar kayu tersebut.
Sang ayah kemudian menggandeng Anton melihat pagar kayu.
“Kamu telah melakukan sesuatu yang baik anakku. Namun, lihatlah pagar kayu besar ini sekarang berlubang-lubang, dan tidak akan kembali seperti keadaan semula. Inilah cermin hidup. Setiap kemarahan, kegusaran, akan menimbulkan bekas luka di hati orang. Persis seperti bekas-bekas lubang paku pada kayu ini. Kamu dapat menusukkan pisau pada seseorang, lalu mencabut pisau itu kembali. Tetapi tidak peduli beberapa kali kamu minta maaf, luka itu akan tetap ada.”
Sumber: Buku Mutiara Kalbu Sebening Embun Pagi


