Seribu dan Seratus Ribu


Uang Rp. 1000 dan Rp. 100.000 sama-sama terbuat dari kertas, sama-sama di cetak dan diedarkan Bank Indonesia.

Mereka keluar pada saat bersamaan, berpisah dari bank, lalu beredar di masyarakat. Empat bulan kemudian mereka bertemu lagi secara tidak sengaja di dalam dompet seorang pemuda, terjadilah percakapan antara uang Rp. 1000 dan Rp. 100.000 tadi. Begini percakapannya:

Rp. 100.000 : Kenapa badanmu begitu lesu, kotor dan bau amis?
Rp. 1.000 : Karena begitu keluar dari bank, aku langsung ke tangan orang-orang bawahan, dari tukang becak, tukang sayur, penjual ikan dan hingga tangan pengemis. Kalau kamu, kenapa kelihatan begitu baru, rapi dan masih bersih?
Rp100.000 : Karena begitu keluar dari bank, aku langsung disambut perempuan cantik dan beredarnya pun di restoran mahal, di mall dan di hotel berbintang. Keberadaanku selalu dijaga dan jarang keluar dari dompet.

Rp. 1000 : Pernahkah engkau mampir ke tempat ibadah?
Rp. 100.000 : *hening* Jarang sih, bahkan banyak di antara kami yang belum pernah.
Rp. 1.000 : Ketahuilah, walaupun keadaanku seperti ini, setiap Jum'at aku selalu mampir di masjid-masjid dan di tangan anak yatim. Karena itu, aku selalu bersyukur kepada Allah SWT. Aku dipandang manusia bukan sebuah nilai, tapi yang mereka pandang adalah sebuah manfaat.

Akhirnya menangislah uang Rp. 100.000 karena merasa dirinya besar, hebat dan tinggi nilainya tetapi tidak begitu bermanfaat selama ini.

Sumber
Sabtu, 04 Januari 2014
Posted by Davin Hean Dirgantara

20 Alasan Gak Hijab (Cewek Only)


*******
















Posted by Davin Hean Dirgantara

Siput dan Katak



Ada seekor Siput yang selalu iri terhadap Katak. Karena sifat iri-nya itu, si Siput pun jadi benci terhadap Katak.

Suatu hari, Katak yang mengetahui hal itu akhirnya berkata kepada siput:

"Hey Siput, apa gue udah ngelakuin kesalahan, sampe segitunya lu benci gue?"

Siput menjawab: "Iyalah, eh lu Katak, lu punya empat kaki dan bisa melompat kesana-sini. Coba lu liat gue deh! gue mesti bawa cangkang yang berat ini setiap hari, dan sambil merangkak di tanah, jadi gue ngerasa iri aja gak bisa lompat kesana-sini kaya lu. gue ngerasa ini gak adil."

Katak menjawab: "Oh gitu, jadi gini bro. Setiap kehidupan memiliki penderitaannya masing-masing, hanya saja, lu cuma melihat sisi kesenengan gue aja, tapi lu nggak melihat penderitaan gue (katak)."

Setelah berkata demikian, ada seekor Elang besar yang terbang ke arah mereka, Siput dengan cepat memasukkan badannya ke dalam cangkang, sedangkan sang Katak dimangsa oleh elang.

Akhirnya Siput pun baru sadar, ternyata cangkang yang di milikinya bukan merupakan suatu beban atau kekurangannya, tetapi cangkang itu adalah kelebihannya.

*******
Nikmatilah kehidupan kalian, tidak perlu dibandingkan dengan orang lain. Keirian hati kita terhadap orang lain akan membawa lebih banyak penderitaan. Misalnya, kalian ngerasa gak betah dengan kondisi kalian yang sekarang dan selalu bilang 'andai aku seperti dirinya', yaampun bro, sesungguhnya dibalik ke 'gak betahan' kalian itu tuh banyak orang-orang 'diluar sana' yang pengen seperti diri kalian.

Rezeki tidak selalu berupa emas, permata atau uang yang banyak, bukan pula saat kita ada/punya rumah mewah dan pergi naik mobil. Karena sebenernya bukan kebahagiaan yang menjadikan kita bersyukur tetapi bersyukurlah yang menjadikan kita bahagia.

Sumber (edited)
Jumat, 03 Januari 2014
Posted by Davin Hean Dirgantara

Kaya dan Miskin


Satu hari, seorang ayah yang berasal dari keluarga kaya membawa anaknya dalam satu perjalanan keliling negeri dengan tujuan memperlihatkan pada si anak bagaimana miskinnya kehidupan orang-orang disekitarnya. Mereka lalu menghabiskan beberapa hari di sebuah rumah pertanian yang dianggap si ayah dimiliki keluarga yang amat miskin.

Setelah kembali dari perjalanan mereka, si ayah menanyai anaknya:

“Bagaimana perjalanannya nak?”.

“Perjalanan yang hebat, yah”.

“Sudahkah kamu melihat betapa miskinnya orang-orang hidup?,” Si bapak bertanya.

“Oh tentu saja,” jawab si anak.

“Sekarang ceritakan, apa yang kamu pelajari dari perjalanan itu,” kata si bapak.

Si anak menjawab:

Saya melihat bahwa kita punya satu anjing, tapi mereka punya empat anjing.

Kita punya kolam renang yang panjangnya sampai pertengahan taman kita, tapi mereka punya anak sungai yang tidak ada ujungnya.

Kita mendatangkan lampu-lampu untuk taman kita, tapi mereka memiliki cahaya bintang di malam hari.

Teras tempat kita duduk-duduk membentang hingga halaman depan, sedang teras mereka adalah horizon yang luas.

Kita punya tanah sempit untuk tinggal, tapi mereka punya ladang sejauh mata memandang.

Kita punya pembantu yang melayani kita, tapi mereka melayani satu sama lain.

Kita beli makanan kita, tapi mereka menumbuhkan makanan sendiri.

Kita punya tembok disekeliling rumah untuk melindungi kita, sedangkan mereka punya teman-teman untuk melindungi mereka.

Ayah si anak hanya bisa bungkam.

Lalu si anak menambahkan kata-katanya: “Ayah, terima kasih sudah menunjukkan betapa MISKIN-nya kita”.

*******
Hikmah yang bisa diambil dari kisah diatas:
1) Kaya dan Miskin tergantung pada persepsi kita sendiri, bukan pada penilaian orang lain.
2) Orang lain yang tampak miskin bagi kita, boleh jadi termasuk kaya menurut orang lain, atau bahkan mereka sendiri
3) Kisah diatas mendorong kita untuk selalu melihat perspektif lain dari apa yang kita lihat rendah

Sumber
Kamis, 02 Januari 2014
Posted by Davin Hean Dirgantara

Pelari dan Sang Ayah


Olimpiade Barcelona, 1992.

Enam puluh lima ribu pasang mata hadir di stadion itu. Semua hendak menyaksikan event atletik terbesar di ajang olahraga terbesar seplanet bumi.

Nama lelaki itu Derek Redmond, seorang atlet pelari olimpiade asal Inggris. Impian terbesarnya ialah mendapatkan sebuah medali olimpiade (apapun medalinya). Derek sebenarnya sudah ikut di ajang olimpiade sebelumnya, tahun 1988 di Korea. Namun sayang beberapa saat sebelum bertanding, ia cedera sehingga tak bisa ikut berlomba. Mau tak mau, olimpiade ini, adalah kesempatan terbaiknya untuk mewujudkan mimpinya. Ini adalah hari pembuktiannya, untuk mendapatkan medali di nomor lari 400 meter. Karena ia dan ayahnya sudah berlatih sangat keras untuk ini.

Suara pistol menandakan dimulainya perlombaan. Latihan keras yang dijalani Derek Redmond, membuatnya segera unggul melampaui lawan-lawannya. Dengan cepat ia sudah memimpin hingga meter ke 225. Berarti kurang 175 meter lagi. Ya, kurang sebentar lagi ia akan mendapatkan medali yang diimpikannya selama ini.

Namun tak ada yang menyangka, di performa puncaknya, ketika ia sedang memimpin perlombaan tersebut, tiba-tiba ia didera cedera. Secara tiba-tiba di meter ke 225 tersebut, timbul rasa sakit luar biasa di kaki kanannya. Saking sakitnya, seolah kaki tersebut telah ditembak sebuah peluru. Dan seperti orang yang ditembak kakinya, Derek Redmond pun menjadi pincang. Yang ia lakukan hanya melompat-lompat kecil bertumpu pada kaki kirinya, melambat, lalu rebah di tanah. Sakit di kakinya telah menjatuhkannya.

Derek sadar, impiannya memperoleh medali di Olimpiade ini pupus sudah. Melihat anaknya dalam masalah, Ayahnya yang berada di atas tribun, tanpa berpikir panjang ia segera berlari ke bawah tribun. Tak peduli ia menabrak dan menginjak sekian banyak orang. Baginya yang terpenting adalah ia harus segera menolong anaknya.

Di tanah, Derek Redmond menyadari bahwa impiannya memenangkan olimpiade pupus sudah. Ini sudah kedua kalinya ia berlomba lari di Olimpiade, dan semuanya gagal karena cidera kakinya. Namun jiwanya bukan jiwa yang mudah menyerah. Ketika tim medis mendatanginya dengan membawa tandu, ia berkata, “Aku tak akan naik tandu itu, bagaimanapun juga aku harus menyelesaikan perlombaan ini”, katanya.

Maka Derek pun dengan perlahan mengangkat kakinya sendiri. Dengan sangat perlahan pula, sambil menahan rasa sakit dikakinya, ia berjalan tertatih dengan sangat lambat. Tim medis mengira bahwa Derek ingin berjalan sendiri ke tepi lapangan, namun mereka salah. Derek ingin menuju ke garis finish.

Di saat yang sama pula, Jim, Ayah Derek sudah sampai di tribun bawah. Ia segera melompati pagar lalu berlari melewati para penjaga menuju Anaknya yang berjalan menyelesaikan perlombaan dengan tertatih kesakitan. Kepada para penjaga ia hanya berkata, “Itu anakku, dan aku akan menolongnya!”

Akhirnya, kurang 120 meter dari garis finish, sang Ayah pun sampai juga di anaknya, Derek, yang menolak menyerah. Derek masih berjalan pincang tertatih dengan sangat yakin. Sang Ayah pun merangkul dan memapah Derek. Ia kalungkan lengan anaknya tersebut ke bahunya.

Aku disini Nak”, katanya lembut sambil memeluk Anaknya, “dan kita akan menyelesaikan perlombaan ini bersama-sama.”

Ayah dan anak tersebut, dengan saling berangkulan, akhirnya sampai di garis finish. Beberapa langkah dari garis finish, Sang Ayah, Jim, melepaskan rangkulannya dari anaknya agar Derek dapat melewati garis finish tersebut seorang diri. Lalu kemudian, barulah ia merangkul anaknya lagi.

Enam puluh lima ribu pasang mata menyaksikan mereka, menyemangati mereka, bersorak bertepuktangan, dan sebagian menangis. Scene Ayah dan anak itu kini seolah lebih penting daripada siapa pemenang lomba lari.

Derek Redmond tak mendapat medali, bahkan ia di diskualifikasi dari perlombaan. Namun lihatlah komentar Ayahnya.

Aku adalah ayah yang paling bangga sedunia! Aku lebih bangga kepadanya sekarang daripada jika ia mendapatkan medali emas.

Dua tahun paska perlombaan lari tersebut, dokter bedah mengatakan kepada Derek bahwa Derek tak akan lagi dapat mewakili negaranya dalam perlombaan olahraga.

Namun tahukah kalian apa yang terjadi?

Lagi-lagi, dengan dorongan dari Ayahnya, Derek pun akhirnya mengalihkan perhatiannya. Dia pun menekuni dunia basket, dan akhirnya menjadi bagian dari timnas basket Inggris Raya. Dikiriminya foto dirinya bersama tim basket ke dokter yang dulu  memvonisnya takkan mewakili negara dalam perlombaan olahraga.

*******
Sahabat, Jika kasih ibu, adalah melindungi kita dari kelamnya dunia, maka kasih sayang seorang Ayah adalah mendorong kita untuk menguasai dunia itu. Seorang Ayah akan senantiasa mendukung, memotivasi, men-support, dan membersamai kita dalam kondisi apapun. Ayah pulalah yang akan meneriakkan kita untuk bangkit, lalu memapah kita hingga ke garis finish. Karena mereka tak ingin kita menyerah pada keadaan, sebagaimana kisah nyata yang Derek dan Ayahnya contohkan di atas.

Sumber: cuplikan dari Novel Inspiratif Sepatu Terakhir
Posted by Davin Hean Dirgantara

Tidak Menolong?


Ada seorang laki-laki yang tinggal di dekat sebuah sungai. Kala itu, bulan-bulan musim penghujan sudah dimulai.

Hampir tidak ada hari tanpa hujan, baik hujan rintik-rintik maupun hujan lebat.

Pada suatu hari terjadi bencana di daerah tersebut. Karena hujan turun deras berkepanjangan, permukaan sungai semakin lama semakin naik, dan akhirnya terjadilah banjir.

Saat itu banjir sudah sampai ketinggian lutut orang dewasa. Daerah tersebut pelan-pelan mulai terisolir. Orang-orang sudah banyak yang mulai mengungsi dari daerah tersebut, takut kalau permukaan air semakin tinggi.

Lain dengan orang-orang yang sudah mulai ribut mengungsi, lelaki tersebut tampak tenang tinggal dirumah. Akhirnya datanglah truk penyelamat berhenti di depan rumah lelaki tersebut.

“Pak, cepat masuk ikut truk ini, nggak lama lagi banjir semakin tinggi”, teriak salah satu regu penolong ke lelaki tersebut.

Si lelaki menjawab, “Tidak, terima kasih, anda terus saja menolong yang lain. Saya pasti akan diselamatkan Tuhan. Saya ini kan sangat rajin berdoa.”

Setelah beberapa kali membujuk tidak bisa, akhirnya truk tersebut melanjutkan perjalanan untuk menolong yang lain.

Permukaan air semakin tinggi. Ketinggian mulai mencapai 1.5 meter. Lelaki tersebut masih di rumah, duduk di atas lemari.

Datanglah regu penolong dengan membawa perahu karet dan berhenti di depan rumah lelaki tersebut.

"Pak, cepat kesini, naik perahu ini. Keadan semakin tidak terkendali. Kemungkinan air akan semakin meninggi."

Lagi-lagi laki-laki tersebut berkata, "Terima kasih, tidak usah menolong saya, saya orang yang beriman, saya yakin Tuhan akan selamatkan saya dari keadaan ini."

Dibujuk tetap tidak bisa. Perahu dan regu penolongpun pergi tanpa dapat membawa lelaki tersebut.

Perkiraan banjir semakin besar ternyata menjadi kenyataan. Ketinggian air sudah sedemikian tinggi sehingga air sudah hampir menenggelamkan rumah-rumah di daerah itu. Lelaki itu nampak di atas atap rumahnya sambil terus berdoa.

Datanglah sebuah helikopter dan regu penolong. Regu penolong melihat ada seorang laki-laki duduk di atap rumahnya. Mereka melempar tangga tali dari pesawat. Dari atas terdengar suara dari megaphone (toa), ”Pak, cepat pegang tali itu dan naiklah kesini.“

Tetapi, lagi-lagi laki-laki tersebut menjawab dengan berteriak, "Terima kasih, tapi anda tidak usah menolong saya. Saya orang yang beriman dan rajin berdoa. Tuhan pasti akan menyelamatkan saya."

Ketinggian banjir semakin lama semakin naik, dan akhirnya seluruh rumah di daerah tersebut sudah terendam seluruhnya.

Lalu, bagaimana nasib lelaki tersebut?

Lelaki tersebut akhirnya mati tenggelam.

Di akhirat dia dihadapkan pada Tuhan. Lelaki ini kemudian mulai berbicara bernada protes, ”Ya Tuhanku, aku selalu berdoa padamu, selalu ingat padamu, tapi kenapa aku tidak engkau selamatkan dari banjir itu?”

Tuhan menjawab dengan singkat, "Aku selalu mendengar doa-doamu, untuk itulah aku telah mengirimkan Truk, kemudian perahu dan terakhir pesawat helikopter. Tetapi kenapa kamu tidak ikut salah satupun dari mereka?"

*******
Sebuah cerita fiksi yang menarik. Demikian juga dalam kehidupan kita, kita bekerja dan selalu berdoa kepada Allah SWT. Dan Allah sudah sering mengirimkan “truk”, “perahu”, dan “pesawat” kepada kita, tapi kita tidak menyadarinya dan menganggap kalau Allah tidak membantu kita. pikirkanlah sekali lagi teman, berprasangka baiklah kepada Allah. :)

Sumber
Rabu, 01 Januari 2014
Posted by Davin Hean Dirgantara

Tes Tulis Lamaran Kerja


Dikisahkan suatu waktu di Indonesia, ada sebuah perusahaan yang melakukan rekrutmen untuk sebuah posisi. Perusahaan tersebut perusahaan besar, yang sampai sekarang pun namanya insyaAllah masih cukup dikenal di Indonesia. 

Pelamar untuk posisi tersebut terbilang besar, sekitar 2000-an orang. Namun hanya 1 orang yang akhirnya diterima bekerja disana.

Dalam proses rekrutmen, perusahaan tersebut memberikan sebuah tes tertulis. Isi tes tertulisnya, adalah sebuah kasus untuk dijawab oleh calon karyawannya. Berikut ini adalah kasus dalam tes tulis tersebut:

Anda sedang mengendarai motor ditengah malam yang hujan, ditengah jalan Anda melihat 3 orang sedang menunggu kedatangan angkot: 
- Seorang nenek tua yang sangat lapar.
- Seorang dokter yang pernah menyelamatkan hidup Anda sebelumnya.
- Seseorang special yang selama ini menjadi idaman hati Anda.
 
Anda hanya bisa mengajak 1 orang untuk dibonceng, siapakah yang akan Anda ajak?
Dan jelaskan mengapa Anda melakukan itu!

Silahkan temen-temen pembaca blog ini jawab dulu di dalam hati masing-masing, kira-kira jawaban apa yang akan temen-temen berikan jika temen-temen ikut tes tulis seperti di atas.
Sebelum menjawab dalam hati, jangan scroll kebawah dulu ya. :)














Udah, jawab dulu pake jawaban sendiri. Baru nanti diliat jawaban 1 orang yang lolos tes itu.














Jadi, dari 2000an pelamar dan 2000 jawaban, hanya 1 pelamar yang diterima, Orang tersebut tidak menjelaskan jawabannya, dia hanya menulis dengan singkat:

"Saya akan memberikan kunci motor saya kepada sang dokter dan meminta dia untuk membawa nenek tua tersebut untuk ditolong segera. Sedangkan saya sendiri akan tetap tinggal disana dengan sang idaman hati untuk menunggu angkot."

Dan diterimanyalah ia serta langsung mendapat kualifikasi smart & brilliant employee.
Lepas dari nilai non-syari terkait khalwat-nya, Bagi saya pribadi, hikmah yang bisa saya petik adalah kita dapat melakukan sebuah efisiensi pekerjaan yang menyenangkan.

Syaratnya hanyalah kita mau berkorban lebih untuk mendapatkan sesuatu yang insyaAllah lebih besar. Kalau kamu? hikmah Apa yang bisa kamu petik?

Sumber
Posted by Davin Hean Dirgantara

Info

Selamat datang di blog ini, selamat membaca :)

Top Three

Twitter

Readers

About Me

Foto saya
Started from a very small town that I love. I was born and raised in the city cavalier, they used to call Jakarta.
davinhd. Diberdayakan oleh Blogger.

- Copyright © @davinhd -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -