Posted by : Davin Hean Dirgantara Minggu, 02 Maret 2014


Pada suatu sore, seorang ayah bersama anaknya yang baru saja menamatkan pendidikan tinggi duduk berbincang-bincang di halaman sambil memperhatikan suasana di sekitar mereka. Tiba-tiba seekor burung gagak hinggap di ranting pohon. Si ayah lalu menunjuk ke arah gagak sambil bertanya, “Nak, apakah itu?”

“Burung gagak,” jawab si anak.

Si ayah mengangguk-angguk, namun beberapa saat kemudian mengulangi lagi pertanyaan yang sama. Si anak menyangka ayahnya kurang mendengar jawabannya tadi lalu menjawab dengan sedikit keras.
“Itu burung gagak ayah!”

Tetapi sejenak kemudian si ayah bertanya lagi dengan pertanyaan yang sama. Si anak merasa agak marah dengan pertanyaan yang sama dan diulang-ulang, lalu menjawab dengan lebih keras, “BURUNG GAGAK!!”

Si ayah terdiam seketika. Namun tidak lama kemudian, sekali lagi sang ayah mengajukan pertanyaan yang sama sehingga membuat si anak kehilangan kesabaran dan menjawab dengan nada yang ogah-ogahan menjawab pertanyaan si ayah, “Gagak ayah.......”.

Tetapi kembali mengejutkan si anak, beberapa saat kemudian si ayah sekali lagi membuka mulut hanya untuk bertanya pertanyaan yang sama. Dan kali ini si anak benar-benar kehilangan kesabaran dan menjadi marah.

“Ayah!!! Aku tidak mengerti ayah mengerti atau tidak. Tapi sudah lima kali ayah menanyakan pertanyaan tersebut dan Aku pun sudah memberikan jawabannya. Apakah yang ayah ingin aku katakan???? Itu burung gagak!! burung gagak ayah!!!”, kata si anak dengan nada yang begitu marah.

Si ayah kemudian bangkit menuju ke dalam rumah meninggalkan si anak yang terheran-heran. Beberapa saat kemudian, si ayah keluar lagi dengan membawa sesuatu di tangannya. Dia mengulurkan benda itu kepada anaknya yang masih marah dan bertanya-tanya. Ternyata benda tersebut adalah sebuah diary lama sang ayah.

“Coba kamu baca apa yang pernah ayah tulis di dalam buku diary itu”, pinta si ayah.

Si anak patuh dan membaca salah satu bagian dari diary tersebut.

“Hari ini aku sedang bermain di halaman bersama anakku yang genap berumur lima tahun. Tiba-tiba seekor gagak hinggap di pohon. Anakku terus menunjuk ke arah gagak dan bertanya, “Ayah, apakah itu?”.
Dan aku menjawab, “Burung gagak, Nak”.
Walau sudah ku jawab, anak ku terus bertanya pertanyaan yang sama dan setiap kali dia bertanya, aku pun menjawab dengan jawaban yang sama. Sampai 25 kali anakku bertanya demikian, tapi demi rasa cinta dan sayang aku terus menjawab untuk memenuhi perasaan ingin tahunya. Aku berharap bahwa hal tersebut menjadi suatu pendidikan yang berharga.”

Setelah selesai membaca bagian tersebut si anak mengangkat muka memandang wajah si ayah yang kelihatan sayu.

Sang ayah dengan perlahan bersuara, “Hari ini ayah baru menanyakan kepadamu pertanyaan yang sama sebanyak lima kali, dan kamu telah kehilangan kesabaran dan marah.”

*******
Jagalah hati dan perasaan orang lain, terutama kedua orang tua, hormatilah mereka. Sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangimu di waktu kecil.

Mereka dengan sabar mengasuhmu waktu kecil, bersabar atas kenakalan-kenakalanmu waktu kecil, bersabar ketika tengah malam mereka tidak bisa tidur karena tangisanmu, dan masih banyak lagi.

Untuk meraih kehidupan yang baik, tidak cukup hanya dengan meraih kesuksesan dalam hal pendidikan akademik yang tinggi, gelar sarjana hingga doktor, ataupun pekerjaan yang mapan, semua itu akhirnya akan sia-sia dan kita tidak akan meraih kehidupan yang baik jika etika, akhlak, dan moral kita belum/tidak baik.

Kebaikan hidup ada pada kebahagiaan dan ketulusan dalam menjalani kehidupan, latihlah diri kita untuk berperilaku, beretika, berakhlak, dan bermoral baik agar hati kita baik, dan hidup kita pun akan baik. InsyaAllah.  :)

Sumber Sumber2 gambar

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Info

Selamat datang di blog ini, selamat membaca :)

Top Three

Twitter

Readers

About Me

Foto saya
Started from a very small town that I love. I was born and raised in the city cavalier, they used to call Jakarta.
davinhd. Diberdayakan oleh Blogger.

- Copyright © @davinhd -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -