Archive for Juni 2014

Do'a Berbuka Puasa yang Sunnah


Keberkahan lain di waktu berbuka puasa adalah dikabulkannya doa orang yang telah berpuasa, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam:

“Ada tiga orang yang doanya tidak tertolak, orang yang berpuasa ketika berbuka, penguasa yang adil dan orang yang dizhalimi” (HR. Tirmidzi no.2528, Ibnu Majah no.1752, Ibnu Hibban no.2405, dishahihkan Al Albani di Shahih At Tirmidzi)

Oleh karena itu, jangan lewatkan kesempatan baik ini untuk memohon apa saja yang termasuk kebaikan dunia dan kebaikan akhirat. Namun perlu diketahui, terdapat doa yang dianjurkan untuk diucapkan ketika berbuka puasa, yaitu doa berbuka puasa. Sebagaimana hadits

“Biasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam ketika berbuka puasa membaca doa:
/Dzahabaz zhamaa-u wabtalatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insyaa Allah/ (‘Rasa haus telah hilang, kerongkongan telah basah, semoga pahala didapatkan. Insya Allah’)” (HR. Abu Daud no.2357, Ad Daruquthni 2/401, dihasankan oleh Ibnu Hajar Al Asqalani di Hidayatur Ruwah, 2/232)

Adapun doa yang tersebar di masyarakat dengan lafazh berikut:

/allahumma laka sumtu wa bika aamantu wa ‘alaa rizqika afthartu birahmatika ya arhamarrohimin/

adalah hadits palsu, atau dengan kata lain, ini bukanlah hadits (palsu). Tidak terdapat di kitab hadits manapun. Sehingga kita tidak boleh meyakini doa ini sebagai hadits Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Entah siapa orang yang membuat doa ini.

Oleh karena itu, doa dengan lafazh ini dihukumi sama seperti ucapan orang biasa seperti saya dan anda. Sama kedudukannya seperti kita berdoa dengan kata-kata sendiri. Sehingga doa ini tidak boleh dipopulerkan apalagi dipatenkan sebagai doa berbuka puasa.

Memang ada hadits tentang doa berbuka puasa dengan lafazh yang mirip dengan doa tersebut, semisal:

“Biasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam ketika berbuka membaca doa: Allahumma laka shumtu wa ‘alaa rizqika afthartu fataqabbal minni, innaka antas samii’ul ‘aliim

Ibnu Hajar Al Asqalani berkata di Al Futuhat Ar Rabbaniyyah (4/341) : “Hadits ini gharib, dan sanadnya lemah sekali”. Hadits ini juga di-dhaif-kan oleh Al Albani di Dhaif Al Jami’ (4350). Atau doa-doa yang lafazh-nya semisal hadits ini semuanya berkisar antara hadits dhaif atau munkar.

Perlu diingat juga bahwasannya doa berbuka puasa ini diucapkan setelah kita sudah memakan santapan buka. Jadi sebelum memakan santapan yg dihidangkan seperti biasanya kita mengucapkan bismillah, kemudian berbuka dan barulah kita ucapkan doa tersebut. (Penjelasan Syaikh Abdullah Al Jibrin rahimahullah).

Wallahu a’lam.


*******
"Mohon maaf kalau ada kesalahan dalam penyampaian artikel ini, saya juga manusia yang tak luput dari kesalahan. Jika ada yang mau menambahkan, koreksi, atau mengomentari, silahkan saja di kolom komentar yang tersedia di bawah artikel ini. Terima kasih.."
Minggu, 29 Juni 2014
Posted by Davin Hean Dirgantara
Tag :

Mandor dan Pekerja


Seorang mandor bangunan yang berada di lantai 5 ingin memanggil pekerjanya yang sedang bekerja di bawah.

Setelah sang mandor berkali-kali berteriak memanggil, si pekerja tidak dapat mendengar karena fokus pada pekerjaannya dan bisingnya alat bangunan.

Sang mandor terus berusaha agar si pekerja mau menoleh ke atas, dilemparnya Rp. 1.000- yang jatuh tepat di sebelah si pekerja.

Si pekerja hanya memungut Rp 1.000 tersebut dan melanjutkan pekerjaannya.

Sang mandor akhirnya melemparkan Rp 100.000 dan berharap si pekerja mau menengadah 'sebentar saja' ke atas.

Akan tetapi si pekerja hanya lompat kegirangan karena menemukan Rp 100.000 dan kembali asyik bekerja.

Pada akhirnya sang mandor melemparkan batu kecil yang tepat mengenai kepala si pekerja. Merasa kesakitan akhirnya si pekerja baru mau menoleh ke atas dan dapat berkomunikasi dengan sang mandor.

*******

Cerita tersebut di atas serupa dengan kehidupan kita, Allah selalu ingin menyapa kita, akan tetapi kita selalu sibuk mengurusi 'dunia' kita.

Kita diberi rezeki sedikit maupun banyak, sering kali kita lupa untuk menengadah bersyukur kepada-NYA.

Bahkan lebih sering kita tidak mau tahu dari mana rezeki itu datang, bahkan sering kita selalu bilang... kita lagi "HOKI!"

Yang lebih buruk lagi kita menjadi takabur dengan rezeki milik Allah SWT.

Jadi jangan sampai kita mendapatkan lemparan 'batu kecil' agar kita mau menoleh kepada-NYA.

Sungguh, Allah sangat mencintai kita, marilah kita selalu ingat untuk menoleh kepada-NYA. Sehingga, Dia tak perlu lagi lemparkan 'batu kecil' saat Ia rindu dan ingin berkomunikasi dengan kita.

Sumber: grup whatsapp (ka asep) | Gambar: disini
Rabu, 25 Juni 2014
Posted by Davin Hean Dirgantara

Matahari dan Lilin


Pada suatu saat, terjadi dialog menarik antara Matahari dengan temannya, Lilin.

Matahari: "Akulah yang terhebat, tak ada yang mampu menandingi terangnya sinarku! Hahahaha"

Lilin: "Sinarmu memang yang terhebat, tak ada yang mampu menandingimu, tapi kau lupa akan satu hal!"

Matahari: "Hah?! Apa itu???"

Lilin: "Di saat malam tiba, mampukah kau terangi seluruh manusia? Tahukah kamu mengapa manusia kadang malas atau memakai pelindung ketika keluar ruangan disaat dirimu hadir? Apa kau tidak sadar? sinarmu itu menyakiti mereka! Coba lihat mereka yang masih kecil, di kala hujan tiba dan awan kelabu membuat sinarmu tenggelam, mereka tertawa, mereka gembira. Sadarkah kamu akan hal itu? Aku memang sebuah lilin lemah, sinarku tak sehebat dirimu. Tapi, di kala malam gelap gulita, mereka mencariku dan ketika sinarku tiba, Aku dapat melihat dari dekat wajah mereka tanpa menyakitinya!

Ya, aku tahu. Aku tidaklah bertahan lama, namun aku bangga bisa menjaga mereka, menuntun mereka berjalan dalam kegelapan dengan sinarku. Aku tau mereka mencintaiku. Aku tau mereka kadang melupakanmu. Namun di kala yang lain tak mampu, mereka pasti mencariku dan Aku dapat melihat kebahagiaan di raut wajah mereka!"

Matahari: "Maafkan aku teman kecilku, aku sadar. Meski sinarku yang terhebat, namun aku tak berguna jika aku menyakiti mereka, Aku mengakuinya teman kecilku. Terima kasih teman kau telah buatku sadar dan mengerti."

*******
"Ketahuilah sehebat apapun seseorang tidak akan berguna jikalau dia menyombongkan dirinya dan hanya bisa menyakiti orang lain."
Sumber: grup whatsapp (@Salwamuzdalifah) | gambar: disini
Posted by Davin Hean Dirgantara

Telepon Koin


Seorang bocah laki-laki masuk ke sebuah toko. Lalu mengambil peti minuman dan mendorongnya ke dekat pesawat telepon koin. Lalu, ia naik ke atasnya sehingga ia bisa menekan tombol angka di telepon dengan leluasa. Ditekannya tujuh digit angka. Si pemilik toko mengamati-amati tingkah bocah ini dan menguping percakapan teleponnya.

Bocah: Ibu, bisakah saya mendapat pekerjaan memotong rumput di halaman Ibu?

Ibu (di ujung telepon sebelah sana): Saya sudah punya orang untuk mengerjakannya.

Bocah: Ibu bisa bayar saya setengah upah dari orang itu.

Ibu: Saya sudah sangat puas dengan hasil kerja orang itu.

Bocah (dengan sedikit memaksa): Saya juga akan menyapu pinggiran trotoar Ibu dan saya jamin di hari Minggu halaman rumah Ibu akan jadi yang tercantik di antara rumah-rumah yang berada di kompleks perumahan ibu.

Ibu: Tidak, terima kasih.

Dengan senyuman di wajahnya, bocah itu menaruh kembali gagang telepon. Si pemilik toko, yang sedari tadi mendengarkan, menghampiri bocah itu.

Pemilik Toko: Nak, aku suka sikapmu, semangat positifmu, dan aku ingin menawarkanmu pekerjaan.

Bocah: Tidak. Makasih.

Pemilik Toko: Tapi tadi kedengarannya kamu sangat menginginkan pekerjaan.

Bocah: Oh, itu, Pak. Saya cuma mau mengecek apa kerjaan saya sudah bagus. Sayalah yang bekerja untuk Ibu tadi.

*******

Seperti anak kecil ini, sebaiknyalah kita mengevaluasi tentang apa yang kita kerjakan selama ini untuk memastikan kualitas yang lebih baik di hari esok.

"Waktu itu seperti sungai, kita tidak bisa menyentuh air yang sama untuk kedua kalinya, karena air yang telah mengalir akan terus berlalu dan tidak akan pernah kembali."
Sumber 
Gambar
Minggu, 01 Juni 2014
Posted by Davin Hean Dirgantara

Info

Selamat datang di blog ini, selamat membaca :)

Top Three

Twitter

Readers

About Me

Foto saya
Started from a very small town that I love. I was born and raised in the city cavalier, they used to call Jakarta.
davinhd. Diberdayakan oleh Blogger.

- Copyright © @davinhd -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -